Senin, 05 Januari 2015

Marhalim Zaini (M)

http://www.sagangonline.com/images/konten/seniman--budayawan/marhalim_0fc95cc5f18ec3b50d35bc78482cbec76a908a3.jpg
photo: http://www.sagangonline.com

  

Marhalim Zaini. Lahir di Teluk Pambang Bengkalis Riau, 15 Januari 1976. Alumnus Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, esai budaya, resensi, naskah drama, juga cerbung dipublikasikan ke berbagai media massa lokal, nasional, dan internasional di antaranya Kompas, Majalah Sastra Horison, Media Indonesia, Republika, Koran Tempo, Jurnal Puisi, Jawa Pos, Bali Post, Surabaya Pos, Lampung Post, Riau Pos, Majalah Budaya Sagang, Pustakamaya (Malaysia), dan Prince Claus Fund Journal Netherlands, dll. 
Buku-bukunya yang telah terbit Segantang Bintang Sepasang Bulan (Kumpulan Sajak, 2003), Di Bawah Payung Tragedi (Kumpulan Drama, 2003), Langgam Negeri Puisi (Kumpulan Sajak, 2004), Tubuh Teater (Kumpulan Esai, 2004), Getah Bunga Rimba (sebuah Novel yang menerima Penghargaan Utama Ganti Award dari Yayasan Bandar Serai, 2005). Sebuah Novel Hikayat Kampung Mati, di muat bersambung di Harian Riau Pos (2005).

Diundang membacakan karyanya dalam berbagai event sastra dan budaya, di antaranya adalah Festival Kesenian Yogyakarta 2002, Pasar Seni Dewan Kesenian Riau, Hadiah Tepak Dewan Kesenian Bengkalis, Cakrawala Sastra Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta di TIM (2004), Kenduri Seni Melayu di Batam, Bintan Art Festival di Tanjung Pinang, dan terakhir diundang Komunitas Utan Kayu Jakarta dalam International Literary Biennalle 2005 di Lampung.

Sejumlah perhargaan untuk sejumlah karyanya yang telah diterima, dari Rektor ISI dan DPD BSMI Yogyakarta, ’Hadiah Tepak’ Dewan Kesenian Bengkalis, Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau, Lima Besar KSI Award (Komunitas Sastra Indonesia), Nomine Anugerah Sagang 2004, Sayembara menulis Novel Remaja Dar! Mizan, dan naskah skenario filmnya Dongeng Negeri Siti, terpilih sebagai sepuluh naskah pilihan dalam Sayembara Penulisan Skenario Film oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan Dirjen Perfilman Nasiomal Jakarta, 2005. Terakhir, Dewan Kesenian Riau memberikan Anugerah Seni 2005 (Bidang Sastra) bergelar Seniman Pemangku Negeri (SPN).

Karya-karyanya juga dapat ditemukan dalam belasan antologi bersama, di antaranya Filantropi (Festival Kesenian Yogyakarta, 2001), Hijau Kelon dan Sajak 2002 (Kompas, 2002), Pertemuan dalam Pipa (Dewan Kesenian Jakarta, 2004), Satu Abad Cerpen Riau (Yayasan Sagang, 2004), Maha Duka Aceh (PDS HB. Jassin, 2005), Living Together (TUK, 2005), terakhir bersama lima penyair Riau, sajaknya masuk dalam antologi puisi Indonesia-Portugal, dll.
Kini ia berkhidmat di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) Pekanbaru sebagai staf pengajar dan Ketua Jurusan Teater. Sambil menggiatkan sejumlah komunitas, di antaranya Komunitas Paragraf dan Telangkai Teater Riau. Bersama istri Titin Kasmila dan seorang anak Dara Asia, tinggal di Pekanbaru.

 

 

 

 

 

FAKHRUNNAS MA JABBAR (F)


SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG XIII 2008 FAKHRUNNAS MA JABBAR
SENIMAN/BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2008 : FAKHRUNNAS MA JABBAR

PEMEO yang mengatakan bahwa kreativitas seorang seniman akan mati seiring dengan kemapanan hidup, tidak terbukti pada diri Fakhrunnas MA Jabbar. Di tengah kesibukannya sebagai Deputy Director Riaupulp dan aktivitas lainnya, Fakhrunnas masih tetap menghasilkan karya, membacakannya, dan juga membukukannya. Maka tak heran kalau Fakhrunnas termasuk ke dalam jajaran sastrawan yang diperhitungkan di tingkat lokal dan nasional.
Fakhrunnas MA Jabbar dilahirkan di Desa Tanjung Barulak, Kampar, Riau pada 18 Januari 1959. Mulai menulis sejak'di bangku SMP di Bengkalis. Menamatkan Fakultas Perikanan Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan Universitas Riau (UNRI) Pekanbaru. Semasa kuliah pernah menjadi Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional utusan Universitas Riau (1984). Fakhrunnas meniti karirnya di dunia akademiki sebagai dosen di Universitas Islam Riau sejak 1986. Sedangkan di dunia jurnalistik sejak tahun 1979-1999. Tulisannya berupa artikel, esai, cerpen dan puisi telah dimuat di sejumlah media lokal dan nasional seperti Horison, Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Riau Pos, Kartini, Nova, Citra, Suoro Pemboruan dan sebagainya.

Fakhrunnas adalah pribadi yang aktif dalam organisasi, terutama kebudayaan, adat, dan sosial kemasyarakatan. Antara lain di Komite Sastra Dewan Kesenian Riau (1994-96), Sekretaris Himpunan Seni Budaya Islam (HSBI- 1983-95), Sekretaris Lembaga Seni Budaya Pernuda KNPI Riau (1981-85), Sekretaris Komite Program Yayasan Puisi Nusantara (1980-84).

Sejumlah buku telah diterbitkan antara lain, Di Bawoh Matahari (1981) dan Motahari Malam, Matahari Siang (1982) -kp keduanya bersama penyair Husnu Abadi , Meditasi Sepasang Pipa (1987) -kp bersama penyair Wahyu Prasetya, Buya Zaini Kuni : Sebutir Mutiara di Lubuk Bendahara (1993) -biografi, H. Soeman Hs: Bukan Pencuri Anak Perawan (1998) -autobiografi- dan terpilih sebagai Buku Terbaik Anugerah Sagang tahun 1999 . Selain itu, 6 buku cerita anak di mana tiga judul di antaranya termasuk buku Inpres yakni Anak-onak Suku Laut (Pustaka Utama Grafiti, 1994), Menembus Kabut (Depag RI, 1985), Menyingkap Rahasia di Bumi Harapan (1997).

Kumpulan cerpennya Sebatang Cerita di Serambi (Penerbit Akar Indoneseia, Yogyakarta, 2005) sempat dibahas oleh pengamat sastra Prof. Harry Aveling di FIB Universitas Indonesia, Depok. Buku ini termasuk 10 Nominator., Anugerah Buku Khatulistiwa Literary Award (KLA) tahun 2006.

Sebuah cerpennya, Rumoh Besar Tanpa Jendelo dimuat dalam Buku Cerpen Horison Sastra Indonesia (Horison, 2001) dan diangkat ke sinetron, oleh Chaerul Umam ditayangkan di LaTivi (2002). Kumpulan Puisi tunggalnya, Airmata Barzanji dengan Pengantar D. Zawawi Imron diterbitkan oleh Penerbit Adicita, Yogyakarta (2005). Menjadi editor Buku Sejarah Perjuangan Rakyat Riau (MSI, Pekanbaru, 2005) dan menjadi Nominator Anugerah Sagang tahun 2004 dan 2005 untuk Katagori Seniman/Budayawan Pilihan. Sering memenangkan sayembara penulisan sastra di antaranya Juara Pertama Penulisan Puisi pada Porseni Mahasiswa Nasional (Jakarta, 1983), Juara Pertama Penulisan Cerpen (Bali Post, 1992), Juara Pertama Penulisan Cerpen (UNS Surakarta, 1993) dan lain-lain.

Fakhrunnas sering pula memberikan ceramah sastra dan buclaya dan membaca puisi di sejumlah kota seperti Kuala Lumpur, Singapura, Pekanbaru, Padang, Medan, Jambi, Lampung, Jakarta dan Bandung. Pernah diundang oleh Unesco Korea Selatan tahun 1999 bersama dua budayawan Indonesia lainnya pada '99 Cultural Exchange Programme ASEAN-Republic o f Korea di Seoul dan Kyong Ju.

Selain itu, sering pula menghadiri dan membacakan puisi pada even sastra seperti Hari Sastra di Malaysia, Pertemuan Puisi Indonesia 1987, Malam Bosnia (1995), Malam Solidaritas Islam (1996), Gong Melayu 2001 (2001) dan Baca

Sajak Tempuling Rida K. Liamsi (2003) - semuanya di TIM Jakarta. Tahun 2004 membacakan sajak-sajaknya di Laman Bujang Mat Syam Bandar Serai, Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru. Tahun 2005, membacakan cerpen dalam forum Cakrawala Sastra Indonesia di TIM Jakarta. Di tahun 2007, diundang membacakan puisinya dalam acara Parade Puisi Kebangsaan bersama 20 tokoh nasional termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono***

sumber: http://www.sagangonline.com

Sutrianto Az-Zumar (S)

H Sutrianto Az-Zumar lahir di Pekanbaru, 25 Agustus 1965. Menamatkan pendidikan di PSBSI FKIP Unri, menjadi wartawan Genta (1989-1994), wartawan Riau Pos (1994—sekarang), Ketua PWI Riau (2002-2004, 2004-2008), Ketua I Dewan Kesenian Riau (2007-2011). Cerpennya dimuat di Media Indonesia, Merdeka, Sriwijaya Post, Singgalang, dll. Antologi cerpen Teh Hangat Sumirah (1991), Pertemuan Kedua (1996)

sumber: http://sotrianto.blogspot.com

Soeman Hs (S)


Soeman Hs
Soeman Hasibuan (lahir di Bengkalis, Riau, 4 April 1904 – meninggal di Pekanbaru, Riau, 8 Mei 1999 pada umur 95 tahun) atau lebih di kenal dengan nama Soeman Hs adalah seorang Sastrawan dari Riau asal Tapanuli. Ia digolongkan sebagai sastrawan dari Angkatan Balai Pustaka.

Pendidikan

  • Belajar di Sekolah Melayu Gouevernement Inlandsch School (GIS), sederat Sekolah Dasar tahun 1912.
  • Sekolah Calon Guru (Normaal Cursus) di Medan.
  • melanjutkan ke Normal School (sekolah guru yang sebenarnya) di Langsa, Aceh Timur dan selesai 1923.

Karier

  1. Guru Bahasa Indonesia di HIS (sekolah Belanda) di Siak Sri Indrapura. Tahun 1930.
  2. Menjadi Kepala Sekolah Melayu dan Penilik Sekolah di Pasir Pengarayan.
  3. Menjadi Komandan Pangkalan Gurilla (KPG) Rokan Kanan. Tahun 1950.
  4. Menjabat sebagai Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, berakhir tahun 1960.
  5. Menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) merangkap sebagai kepala Bagian Keuangan di Kantor Gubernur Riau

Karya-karya

Suman Hs menggemari sastra ketika ia masih belajardi Sekolah Melayu dan memperoleh inspirasi dengan banyak membaca buku di perpustakaan. Akhirnya Soeman Hs memberanikan diri untu memulai menulis di beberapa majalah dan harian.
Beberapa tulisan nya berbentuk Roman dan Cerpen yang di terbitkan oleh Balai Pustaka di antara:
  1. Kasih Tak Terlarai, terbitan Balai Pustaka, Jakarta tahun 1930.
  2. Percobaan Setia, terbitan Balai Pustaka, Jakarta tahun 1931.
  3. Mencari Pencuri Anak Perawan, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1932.
  4. Kasih Tersesat, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1932.
  5. Kawan Bergelut (kumpulan cerpen), terbitan Balai Pustaka, Jakarta, tahun 1938.
  6. Tebusan Darah, terbitan Dunia Pengalaman, Medan tahun 1939.
  7. "Pertjobaan Setia" (1940)
  8. "Mentjari Pentjuri Anak Perawan" (1932)
  9. "Kasih Ta' Terlarai" (1961)
  10. "Kawan Bergelut" (kumpulan cerpen)
  11. "Tebusan Darah"

Lihat pula

Seingat saya salah satu buku sastra karangan Soeman Hs adalah "Perawan Di Sarang Penyamun", tetapi dalam judul buku yang ada di Wikipedia "Mencari Pencuri Anak Perawan". Pertanyaannya adalah apakah kedua judul buku tersebut sama atau memang berbeda ? Atau buku "Anak Perawan Di Sarang Penyamun" bukan karangan Soeman Hs ? Mungkin hal ini perlu klarifikasi ke Balai Pustaka atau nara sumber sastra lainnya. Seingat saya juga Soeman Hs adalah Angkatan Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisyahbana dan lain-lainnya. Apakah Angkatan Balai Pustaka sama dengasn Angkatan Pujangga Baru ? Inipun tampaknya perlu ada penelitian yang lebih mendalam. Terima kasih.------

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Soeman_Hs

Sabtu, 03 Januari 2015

YUSMAR YUSUF (Y)

Peraih Anugerah Sagang X 2005

SENIMAN BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2005 YUSMAR YUSUF
SENIMAN BUDAYAWAN PILIHAN SAGANG 2005 : YUSMAR YUSUF

YUSMAR Yusuf dikenal sebagai salah seorang pemikir Kebudayaan Melayu. Budayawan Melayu ini tidak pernah berhenti untuk mencari pemikiran baru demi menemukan kesempurnaan-kesempurnaan dalam kebudayaan itu sendiri. Wajar kalau ia berujar "Saya tidak memiliki tujuan hidup" Alasannya, jika memiliki tujuan maka setelah tujuan itu diraih tidak akan ada lagi yang berguna di dunia ini.

Idealisme dan pemikiran-pemikiran yang bernas, baik di bidang sosial kemasyarakatan, seni dan kebudayaan ini pulalah y4ng menghantarkan Yusmar sebagai salah satu pilihan peraih Anugrah Sagang 2005.

Namun, ternyata ia tidak mudah puas dengan prestasi-prestasi yang diraihnya. "Perlu saya tekankan bahwa anugerah hanyalah sebuah terminal dan bukan tujuan akhir dari sebuah proses panjang perjalanan anak manusia".

Begitu Yusmar Yusuf  menilai sebuah penghargaan yang diberikan kepadanya. Karena baginya, proses panjang kemanusian itu sendiri sejak berabad-abad silam tidak lebih dari terminal-terminal dalam berbagai bidang.

Tak aral, berbagai pemikiran-pemikirannya menjadi acuan oleh pihak-pihak yang memerlukannya di daerah ini. Hingga setakat ini pun, pria berkaca mata ini masih tunak menulis dan rutin mengisi rubrik Perisa di Riau Pos edisi Ahad setiap pekannya. Dalam tulisan-tulisannya yang cukup berani, ia nyaris menembus semua sisi kehidupan, karena tulisan-tulisannya itu meneropong segala aspek kehidupan.

Itulah dia Yusmar Yusuf, yang mengaku bahwa tugasnya adalah untuk "menghasut" masyarakat Melayu untuk mencintai budayanya. Bahkan, dia tidak pernah merasa puas dengan kebudayaan Melayu yang sudah lelah atau lama.***

sumber: http://www.sagangonline.com

Taufik Ikram Jamil (T)

BUKU TERBAIK PILIHAN SAGANG 1997 Sandiwara Hang Tuah : Karya Taufik Ikram Jamil

TAUFIK Ikram Jamil kelahiran Teluk Belitung, Bengkalis, Riau, 19 Sseptember 1963, menampilkan cerpen-cerpennya di berbagai media cetak seperti Riau Pos, Kompas, Berita Buana, Republika, Suara Permbaharuan, Kartini, Horison, Kalam clan Ulumul Qur'an. Telah banyak novelnya yang telah diterbitkan antara lain; Sandiwara Hang Tuah (mendapat anugrah Sagang tahun 1977) : Hempasan Gelombang (juara II pada sayembara roman oleh DKJ) MembacQ , Hang Jebat dan sebagainya.

Dalam kumpulan cerpennya yang mendapat anugerah sagang tahun 1977, ada enam belas cerpen, sebagian besar cerpen-cerpen dalam kumpulan memang inilah khas kepengarangan taufik yang selalu dekat dengan alam Riat dan budayannya. Perihal nasib kaum Melayu Riau yang dhuafa, yang tak mampu duduk sama rendah berdiri sama tingggi dengan derap pembangunan dan perkembangan zaman atau katakanlah orang-orang Melayu yang tertinggal. Dalam gegap gempita lajunya pembangunan di kawasan kerja sama pertumbuhan Sijori (Singapura, Johor daii Riau), mereka bagaikan suku terasing.

Tema dan suasana keterasingan inilah suatu yang lazim dalam kesusastraan Indonesia. Kita pernah mengenal bahwa pada tahun enam puluhan karya-karya sastra dengan tokoh pribadinya, berada dalam keterasingan nilai dengan nilai masyarakat asalnya. karya yang berbau keterasingan eksistensialis, sebagaimana ditunjukkan sobagyo sastrowardoyo, terlihat dari adanya keterasingan penyair terhadap lingkungan asalnya sebagai manusia perbatasan yang tak betah di tanah kelahirannya, namun sama sekali tak bisa lebur dalam penyerapan kebudayaan barat.

Sutardji Calzoun Bachri dalam kata penutup di kumpulan cerpen ini mengatakan keterasingan yang ada dalam dunia sastra kita, sekurang- kurangnya dalam perpuisian adalah keterasingan atau alinea dari pembangunan dan keterasingan gender.

Dan cerpen-cerpen Taufik Ikram Jamil ialah dunia yang akrab dengannya. Pekerjaannya sebagai wartawan agaknya banyak membantunya untuk akrab dengan situasi lapangan dan mengenal lebih kental persoalan-persoalan sosial yang diam-diam terasakan.***

sumber: http://www.sagangonline.com

TENAS EFFENDI (T)

Anugerah Sagang II 1997

Tenas Effendi Seniman & Budayawan Terbaik Pilihan Sagang 1997
KATEGORI BUDAYAWAN TERBAIK ANUGERAH SAGANG 1997 :
TENAS EFFENDI

TENAS Effendi Lahir di Pelalawan. Setelah tamat sekolah Guru B di Bengkalis ia melanjutkan pendidikan ke sekolah guru A di Padang lalu meneruskan pendidikan secara otodidak. Sekretaris Lembaga Adat Riau di Pekanbaru ini, mengarang berbagai buku tentang masalah kebudayaan Melayu Riau. Angggota Komite Penelitian clan Pengembangan Dewan Kesenian Riau (DKR) periode pertama.
Karya-karya sastra yang dihasilkan antara lain: Lancang Kuning (naskah sandiwara I), Laksamana Hang Tuah (naskah sandiwara), novel clan novelet berlatarkan sejarah setempat seperti Banjir Darah di Mampusun, Datuk Pawang Perkasa, Laksemana Mengat seri Rama, Kubu Terakhir. Karya-karya lainnya: Ungkapan Trodisionol Melayu (1989) clan Bujang Tan Domang (1997), Drama Lancang Kuning.

Tenas juga dikenal sebagai tetua masyarakat di Riau yang tunjuk ajarnya selalu di harapkan oleh orang-orang muda di Pekanbaru clan beberapa daerah. Tokoh satu ini juga dikenal gigih memperjuangkan hak suku petalangan,yang selalu dikebiri oleh perusahaan-perusahaan besar di Riau. Saat ini beliau bermastautin di Pekanbaru clan sering mengisi ceramah-ceramah kebudayaan di berbagai tempat, baik dalam maupun luar negeri.

sumber: http://www.sagangonline.com